Gaya HidupInformasiKeuanganTeknologi

Kenali, Pelajari dan Raih peluang Fintech di Indonesia

Fintech di Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan - Teknologi Keuangan - Financial Technology - Blog Hoterip - Info perjalanan wisata anda

Tidak dapat dipungkiri, manusia pada zaman sekarang tidak bisa lepas dari peran teknologi. Mulai dari membaca berita pada portal online, memesan pakaian lewat ecommerce, sampai pada pembayaran transaksi lewat payment gateway. Kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi menyebabkan banyak bermunculan teknologi terbaru untuk terus memanjakan manusia dalam aktivitasnya sehari-hari.

Sebut saja Fintech (Financial Technology) yang saat ini semakin menjamur dan populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena Fintech menawarkan kemudahan dalam berbagai kegiatan finansial hanya melalui aplikasi handphone. 

Mengadopsi kemajuan teknologi yang semakin cepat, Fintech hadir untuk mempersingkat proses finansial dan memberikan kemudahan dalam transaksi maupun pinjam-meminjam uang. Hal tersebut membawa dampak positif bagi masyarakat, selain tersedianya pilihan yang banyak dengan harga relatif murah, juga karena mereka tidak perlu repot lagi pergi ke ATM atau antre di bank konvensional. Sebaliknya, ini menjadi ancaman untuk bank kecil yang tidak memiliki support di bidang teknologi.

Baca Juga : Beberapa teknologi ini memudahkan dalam kegiatan travelling kita.

Terkait fintech, selain untuk pembayaran e-commerce dan multi finance, fenomena yang sedang ramai terjadi di masyarakat adalah maraknya transaksi pinjam-meminjam uang menggunakan layanan teknologi ini  atau yang lebih dikenal dengan istilah peer to peer lending. Cukup dengan KTP dan data diri pendukung, masyarakat bisa mendapatkan uang pinjaman dengan nominal 200 ribu – 10 juta rupiah. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan data bahwa per Mei 2019, jumlah pinjaman uang yang terjadi melalui teknologi fintech ini mencapai angka Rp. 41,04 triliun dengan kenaikan rata-rata bulanan pinjaman sebesar 17.85%.

Dipaparkan OJK kembali, bahwa sampai periode yang sama, tercatat total peminjam (borrower) sebesar 8,7 juta orang dengan kenaikan rata-rata bulanan 25.8%. Dari sisi pemberi pinjaman (lender), total ada 480 ribu orang dengan kenaikan rata-rata bulanan 11%.  

Peraturan dan Perijinan Fintech

Sebagai lembaga pengawas operasional Fintech yang ada, OJK mengeluarkan peraturan Nomor 13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan. Khusus untuk P2P lending, OJK mengaturnya lewat POJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Untuk pengawasan lebih optimal, OJK juga bekerja sama dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).

Menurut Alvin Taulu, selaku Subbagian Perizinan Fintech di Direktorat Pengaturan, Pengawasan dan Perizinan Fintech OJK, jika melihat angka Rp 41,04 T itu tergolong masih kecil untuk memenuhi kebutuhan pendanaan di Indonesia yang mencapai Rp 1.000 T. Inilah yang membuat potensi fintech di Indonesia masih berpeluang besar. 

Alvin menyebutkan bahwa total pendanaan yang diperlukan Indonesia mencapai Rp 1.900 T. Sampai saat ini, sektor perbankan hingga multifinance hanya mampu memberikan pendanaan sebesar Rp. 900 T saja.

Kehadiran Fintech dapat menjadi solusi finansial berbasis teknologi untuk masyarakat yang tidak memenuhi syarat perbankan. Untuk itulah OJK terus berupaya menjaga ekosistem finansial ini agar sama-sama memberikan benefit untuk kedua belah pihak sambil tetap menjaga pertumbuhan fintech di Indonesia. 

Peningkatan pertumbuhan ini tentu diperketat juga dengan pengawasan terhadap fintech-fintech ilegal. Bekerjasama dengan Kominfo hingga Tim Cyber Bareskrim untuk menyisir fintech ilegal. Sampai sejauh ini, sudah ada 144 fintech illegal yang dibekukan operasionalnya.

Kenali dan Teliti sebelum Ajukan Pinjaman

Banyak kasus terkait pinjaman fintech oleh masyarakat, yang menyebabkan gagal bayar dan kasus kekerasan penagihan oleh debt collector. OJK melalui siaran pers nya menghimbau agar setiap fintech tetap menggunakan cara-cara manusiawi dalam melakukan penagihan. Dan untuk masyarakat sendiri diminta untuk membaca detail informasi yang diberikan oleh fintech sebelum melakukan pinjaman. Serta melunasi kewajiban atas hak yang sudah didapatkan. 

Penting untuk diperhatikan, bahwa uang pinjaman sebaiknya digunakan dalam jangka waktu pendek serta bukan untuk kegiatan konsumtif, seperti membeli handphone, fashion, furniture. Tetapi gunakanlah untuk kepentingan yang bisa menghasilkan return yang lebih besar, misalkan modal dagang, bisnis, invoicing. Sehingga ketika jatuh tempo pelunasan, kita sudah siap untuk melakukan pembayaran dan kita sudah mendapatkan untung dari bisnis yang dijalankan.

Mengacu kepada pertumbuhan yang pesat serta beragamnya pilihan fintech yang ada, kunci utama kembali kepada kita. Masyarakat harus cerdas dalam menentukan dari berbagai pilihan yang ada. Perhatikan dengan cermat berbagai syarat dan keuntungan yang diberikan. Sehingga dapat memberikan manfaat maksimal untuk semua pihak.

25 total views, 1 today's views
Sharing is Caring!

Comment here